Kamis, 29 November 2012

Peran Pers Mahasiswa Sebagai Pengawal Multikultural di Indonesia





“Di Bumi ini, perbedaan telah menjadi bahasan dari beribu-ribu tahun yang lalu. Dalam perjalanan umat manusia hidup, tak akan lupa bagaimana konflik yang dilandasi perbedaan tentang hal apapun akan menjadi momok yang menakutkan bagi keberlangsungan hidup umat manusia. Lihat saja peperangan yang terjadi pada masa kerajaan-kerajaan, saat  Perang Dunia I dan II , konflik di Timur Tengah, sampai konflik antar suku dibelahan dunia manapun. Semuanya itu terjadi karena kesalah pahaman atas memaknai perbedaan  juga bagaimana menghargai sesama manusia. Disitulah letak kepahaman akan multikultur dan pluralisme dibutuhkan untuk kedamaian hidup di Bumi ini”.
Selayang pandang
Negeri ini adalah negeri yang sangat kaya akan perbedaan yang indah. Jika kita melakukan perjalanan dari Sabang sampai Merauke, kita akan menjumpai ribuan realita yang menjelaskan alangkah menakjubkannya keanekaragaman Nusantara ini: budaya, suku, bahasa, keyakinan, hingga perilaku sosial yang berupa-rupa. Tak banyak warga negeri ini yang tahu, berapa persisnya jumlah suku bangsa di Indonesia. Akan tetapi,  Badan Pusat Statistik (BPS) ternyata telah melakukan survei mengenai jumlah suku bangsa tersebut. Kepala BPS, Rusman Heriawan, menyampaikan bahwa dari hasil sensus penduduk terakhir pada tahun 2011, diketahui bahwa Indonesia terdiri dari 1.128 suku bangsa.(JP Rabu 3/2)

Kesanggupan negeri ini untuk hidup berdampingan di tengah kemajemukan sudah dicontohkan oleh para pendahulu kita. Lihatlah keguyuban para pemuda-pemudi Nusantara saat mengangkat sumpah pemuda. Bagaimana Jong-Jong dari seantero negeri berkumpul menjadi satu, mencari kebaikan bersama. Juga jika ditarik lebih kebelakang, pada saat magna carta Raja Airlangga tentang hak asasi manusianya, yang mengajak manusia-manusia negeri ini saling menghargai hak-hak dan nasib sesama manusia.
Multikultural berarti beraneka ragam kebudayaan.  Akar kata dari multikulturalisme adalah kebudayaan, yaitu kebudayaan yang dilihat dari fungsinya sebagai pedoman bagi kehidupan manusia. Dalam konteks pembangunan bangsa, istilah multikultural ini telah membentuk suatu ideologi yang disebut multikulturalisme. Konsep multikulturalisme tidaklah dapat disamakan dengan konsep keanekaragaman secara suku bangsa atau kebudayaan suku bangsa yang menjadi ciri masyarakat majemuk, karena multikulturalisme menekankan keanekaragaman kebudayaan dalam kesederajatan. Ulasan mengenai multikulturalisme mau tidak mau akan mengulas berbagai permasalahan yang mendukung ideologi ini, yaitu politik dan demokrasi, keadilan dan penegakan hukum, kesempatan kerja dan berusaha, HAM, hak budaya komuniti dan golongan minoritas, prinsip-prinsip etika dan moral, dan tingkat serta mutu produktivitas.
Multikulturalisme  mempunyai peran yang besar terhadap pembangunan bangsa karena Indonesia tentu saja memiliki berbagai macam kebudayaan dan keyakinan. Adanya prinsip bhineka tunggal ika yaitu berbeda-beda tapi satu jua, mencermikan kepribadian bangsa yang terdiri dari beragam budaya namun memiliki satu bangsa, satu Negara, satu tanah air, satu bahasa dan satu cita-cita. Cita-cita bangsa Indonesia seperti yang tercantum pada Pembukaan UUD 1945 harus terlaksana melalui pembangunan nasional.
Pembangunan nasional tentu saja tidak dapat dilakukan oleh satu orang atau penguasa saja. Pembangunan nasional harus dilaksanakan oleh seluruh warga Negara Indonesia agar pembangunan tersebut menjadi tepat sasaran: yaitu mewujudkan dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat Indonesia yang adil, makmur dan sejahtera. Dalam hal ini diperlukan kerja sama antar warga, termasuk kita sebagai warga Negara.

Media massa mempengaruhi alam bawah sadar di negeri ini
Keberagaman selama ini memang menjadi bahasan yang selalu menarik untuk dibicarakan publik. Dengan data-data di atas, bukan berarti  kesanggupan negeri ini untuk hidup bersama tidak memiliki kelemahan.  Salah satu yang menjadi kelemahan mendasar dalam mempengaruhi keharmonisan kemajemukan ini adalah arus informasi. Dimana posisi informasi yang dipaparkan oleh media massa di era globalisasi saat ini menjadi segalanya. Media menjadi bagian yang amat penting dalam kehidupan manusia saat ini. Akselerasi hidup yang menuntut manusia untuk harus serba cepat, berakibat pada arus informasi yang disuguhkan pun semakin intensif dan kuat masuk ke alam bawah sadar publik.
Bagi insane pers mahasiswa akan familiar dengan beberapa teori dalam hukum media seperti teori jarum suntik, spiral of silence, dramaturgi dll. Dan semua hal tersebut adalah alat pengontrol syaraf publik melalui media massa. Contoh saja, dahulu, jika ada orang cerai, adalah suatu aib. Akan tetapi setelah media memaparkan berulangkali artis cerai dan gonta-ganti pasangan, akhirnya kita terdiam dan nilai malu karena cerai, berubah menjadi kebanggaan jika sering cerai.
Hal ini juga berlaku pada keanekaragaman ini, meskipun pendahulu kita mencontohkan sesuatu yang agung tentang multikulturalisme. Akan tetapi yang terjadi di hari ini, sebagian besar orang menganggap perbedaan ini sebagai bom waktu, mengingat dari keanekaragaman itu akan timbul bermacam-macam kepentingan dan kebutuhan di dalamnya. Ketakutan-ketakutan itu akan muncul bukannya tanpa alasan. Kesalah pemahaman lah yang terjadi dibenak publik oleh suatu isu atau kasus yang dilontarkan oleh media ke publik, Jika sudah salah paham, maka yang akan timbul adalah rasa iri, sakit hati atau dendam yang akan meletup menjadi  tindakan yang merugikan.  
Lihatlah beberapa kasus yang timbul dari perbedaan di akhir-akhir ini seperti: kasus Aceh, Ambon, Timor Leste, Bima, Sampit, atau yang kasus Sunni Syiah baru saja terjadi di Madura. Semua  kasus tersebut muncul  dikarenakan masih banyaknya informasi yang terputus. Kadang, kita cenderung menyingkirkan lebih dulu pandangan dari latar belakang yang mendalam, “mengapa hingga terjadi kasus tersebut?”, atau “bagaimana  solusi damai dari permasalahan-permasalahan tersebut?”, sehingga yang terjadi,  publik negeri ini bersama-sama menyaksikan bahwa negerinya adalah negeri yang penuh perseteruan. Negeri tempat peternakan dendam  disana-sini. Inilah efek dari penyimpangan paham bad news is a good news. Padahal seharusnya, media sebagai penengah, pencerdas, dan pendamai  publik di era informasi ini.

Pers Mahasiswa sebagai sarana belajar dan berjuang
Setelah kita tahu bagaimana semua konflik itu terjadi, lantas bagaimana peran pers mahasiswa sebagai sarana belajar dan media alternatif untuk kebaikan publik, terutama di kalangan mahasiswa, agar tidak memperkeruh masalah? Jawabannya hanya satu, Kebenaran yang bernurani harus ditegakkan melalui segenap proses belajarnya. Apalagi, kebebasan atas dunia jurnalistik ada untuk mencerdaskan peradaban bangsa, bukan memperkeruh kerunyaman.
            Dalam  hal ini, pers mahasiswa bisa dijadikan sebagai sarana belajar sekaligus berjuang. Belajar dalam artian, agar setiap insan pers mahasiswa dalam proses bermedianya tidak hanya belajar menulis berita atau me-layout saja. Tapi juga memikirkan efek laten dari apa yang dihasilkan dari proses ber pers mahasiswa, seperti: tingkat kedalaman berfikir para anggota terhadap menghadapi suatu masalah (lebih melek media) sosial dan bagaimana  warna media-medianya. Karena proses ber pers mahasiswa merupakan kawah candra dhimuka bagi calon jurnalis handal yang mustinya membawa kebaikan bersama.
            Apalagi keberadaan pers mahasiswa yang langsung berdekatan dengan kondisi nyata di daerahnya masing-masing, diharapkan lebih peka dan sadar akan kondisi sebenarnya. Sampaikan signifikansi “kejadian” apa adanya, bukan dengan menyajikan sensasionalitas drama atas kejadian tersebut –yang dalam hal ini lebih sering diutamakan oleh media  umum .
Berkaitan dengan efek jangka panjang, sudah saatnya pers mahasiswa mengenal dan menanamkan pola toleransi dalam keberagaman, sebab awal mula dari sebuah kesalahpahaman adalah ketidaksabaran dalam menerima dan mencerna informasi. Hal tersebut lumrah, karena pada masa sebelum reformasi rakyat telah terbiasa dididik untuk mencurigai perbedaan pendapat. Inilah yang dimaksud dengan ‘berjuang’ dalam kamus pers mahasiswa, yakni untuk memberikan informasi-informasi pencerah bagi publik negeri ini. Tulisan-tulisan insan pers mahasiswa yang diterbitkan melalui buletin, majalah, maupun pada lahan virtual akan menjadi tulisan objektif yang membawa kebaikan bersama dan paling dinanti oleh masyarakat. Minimal masyarakat kampus.  Bahwasanya sikap kritis pembangun  dari mahasiswa melalui kegiatan ber-pers mahasiswa itu masih ada. Bahwasanya, jika tulisan-tulisan di setiap lembar karyanya, masih mampu membantu dalam membangun proses pengurai kerumitan yang ada.
Di dalam proses belajar  dan berjuang inilah, insan pers mahasiswa diajak untuk lebih berpikir panjang dalam mem-blow up berbagai kasus yang terjadi di publik. Agar nantinya, apa yang disuguhkan oleh pers mahasiswa yang notabene sebagai media independen tidak ikut pada lingkaran kepentingan dari konflik-konflik tersebut.
Akhirnya, dalam berproses sebagai pers mahasiswa, seyogyanya kita memberikan tawaran dan pandangan yang baik kepada publik agar mampu memahami, bagaimana menjadi masyarakat yang multikultural yang baik.

Salam Pers Mahasiswa!!!
Oleh: Defy Firman Al Hakim

0 komentar:

Posting Komentar